Home > Coretan, My Opinion > Sebuah Topic Blog yang Ga Penting!

Sebuah Topic Blog yang Ga Penting!

Ot : “Apanya yang ga penting?”
Me : “Ya isi Blog ini lah”…
Ot : “Koq gitu?”
Me : “koq pake nanya?”
Ot : “Hanya berusaha mengkritisi apa yang ada di dalam pikiran”

Banyak fenomena “alam” yang terjadi di sekitar kita, bingung melihat anak buah yang menyenangkan selalu bilang “iya pak”, “baik pak”, “pasti akan saya lakukan”. Namun bingung juga koq ada anak buah yang begitu sangat menyebalkan “kenapa kita tidak pakai cara ini pak?”, “kenapa harus pakai cara itu?”, dan komentar lainnya yang bisa kita nilai menyebalkan. Pernahkah menjumpai orang-orang seperti di atas? pasti pernah!! (sedikit sotoy :D ).

Beberapa pekan yang lalu dibalik aktivitas padat sehari-hari, saya menyempatkan diri untuk meng”upgrade” wawasan dengan membaca e-book gratis dari The Light Magazines (edisi 18). Saya jadi tertarik dengan subtopik “Terapi menjilat pantat” (sempat mau kasih judul blog ini dengan tulisan itu :D ).

Apa itu “Jilat Pantat”? menurut saya itu adalah orang-orang yang selalu mengiyakan / sependapat dengan ucapan orang lain yang dirasa bisa memenangkan hati orang itu (bahasa gaulnya : asal bapak senang), entah mengiyakan ini dalam konteks artian yang benar ataupun yang salah. Ironis memang kadang melihat kenyataan seperti ini, tapi inilah wajah budaya kita, kita sudah terdidik seperti ini. Mari kita bertanya-tanya dalam satu bulan terakhir ini, berapa kali anda melakukan aksi “jilat pantat”, kepada siapapun itu. Bisa dengan orang tua yang kita berharap akan dibelikkan baju baru? Bisa juga dengan bos anda agar anda bisa mendapat promosi / kenaikan gaji?

Di dalam artikel itu ada sebuah contoh kasus yang membuat perbedaan antara budaya kita dengan budaya orang luar.. Berikut cuplikannya.

Saya : Apa kabar mbak?
Indo : Baik.
Saya : Menurut mbak, bagaimana acara hari ini?
Indo : Ya bagus sih…
Saya : Bagusnya gimana?
Indo : ya bagus. Menarik acaranya.
Saya : Kalau lain kali acara ini diadakan lagi, mbak mau datang nggak?
Indo : Mau.
Saya : Ada saran nggak biar acara ini lebih bagus lagi?
Indo : Udah bagus sih, tapi kalau bisa lebih bagus lagi lebih baik sih.

Disisi lain, budaya orang luar dalam menjawab pertanyaan tadi adalah sebagai berikut.

Saya : Apa kabar pak?
Bule : Sangat baik. Bagaimana dengan kamu? Kamu baik-baik juga kan?
Saya : Baik pak, terima kasih. Menurut bapak, bagaimana acara hari ini?
Bule : ya.. saya pikir acara ini sangat positif karena memberikan kesempatan bagi kaum muda untuk menyalurkan hasrat mereka secara positif. Kita bisa lihat bagaimana aksi generasi muda yang begitu sukar untuk dipercaya, namun benar-benar terjadi. Saya tidak akan percaya jika saya tidak melihat langsung di sini.
Saya : Kalau lain kali acara ini diadakan lagi, Bapak mau datang nggak?
Bule : Pasti. Lain kali saya akan ajak anak sayang yang masih kecil untuk melihat bagainana anak muda bisa berbuat sesuatu yang bagi banyak orang tidak mungkin dilakukan. Acara ini sangat positif bagi mereka. Tentu saja saya akan datang.
Saya : Apakah ada saran agar acara ini bisa lebih baik lagi?
Bule : Saya rasa lain kali acara ini harus dibuat lebih lama lagi durasinya. Selain itu promosinya juga harus lebih besar agar lebih banyak lagi orang yang bisa merasakan manfaatnya.

Kita bisa melihat bahwa sulitnya orang Indo dalam mengungkapkan apa yang mereka rasakan dan pikirkan ke dalam sebuah kata-kata, beda dengan orang luar yang memang dididik untuk berpikir kritis. Apa yang membuat kita sulit untuk mengungkapkan sebuah opini? tidak lain adalah rasa Malu, tidak Percaya Diri (merasa tidak pantas mengemukakan pendapat), dan takut salah!
di point akhir saya merasa perlu di bold, karena terkadang perasaan inilah yang cenderung ada di pikiran kita sesudah kita mempunyai suatu opini yang “berbeda”. Tidak ada yang salah dan benar dalam kita berargumen, selama! kita bisa mempertanggung jawabkannya.

Satu yang harus di garis bawahi, bold dan italic, saya tidak menggeneralisasi semua orang Indo seperti ini, namuan kebanyakan dari kita adalah seperti itu (jujur saya sendiri juga masih kadang selalu malas untuk mengkritisi sesuatu). Untuk itulah, mari kita sama-sama belajar untuk mulai sedikit “kurang ajar” dengan berani berargumen. Karena saat kita berargumen menang – kalah adalah masalah yang kesekian, tapi setidaknya kita mendapatkan pelajaran berharga. right?!

Marilah kita mulai belajar untuk tidak takut mendebat, mendebat dengan sesuatu yang rasional dan dapat dipertanggung jawabkan, dan bukan untuk mencari musuh, apalagi menambah musuh.

Menambahi sedikit lagi, topik dalam topik yang ga kalah nggak pentingnya (mo ngomong subtopik doank susah amat ini),
Topik ini juga mengingatkan saya akan sebuah topik dalam pelatihan PMKM (Pelatihan dan Management Kepemimpinan Mahasiswa) yang pernah saya ikuti sewaktu di career center tempat saya kuliah, dimana salah satu trainer waktu itu berkata “Pertanyaan terbodoh adalah pertanyaan yang tidak berani kalian tanyakan dalam hidupmu.” kalau saya translate dalam topic kita ini mngkin bisa menjadi

“Argumen TERBODOH adalah argumen / opini yang tidak pernah kita utarakan, karena sebagaimana kerasnya kita berusaha, orang lain tidak akan tahu argumen atau opini kita!”

Salam.

Referensi : The Light Magazines Edisi 18 / Tahun 2008
PS : Tulisan di atas adalah murni opini saya (kecuali tulisan berwarna biru), hanya untuk sekedar berbagi, apabila ada yang merasa keberatan dengan tulisan ini, then, let me know it.

Categories: Coretan, My Opinion
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.