Febry Hadinata Wordpress

Hanoman Obong

with 13 comments


Hanoman Obong

Hanoman Obong

FullSize

Beberapa hari yang lalu saya dan beberapa rekan kantor pergi ke Uluwatu untuk melihat Tari Kecak.
Setibanya disana, kita akan menemukan pintu masuk yang sudah dijaga oleh petugas. Untuk masuk ke dalam pura Uluwatu kita diharuskan membayar IDR 3.000 dan kita akan mendapatkan souvenir kain panjang. Kain ini nantinya akan diikatkan di pinggang kita, dan untuk yang bercelana pendek akan mendapatkan bonus induk monyet beserta keluarganyaΒ kain panjang lagi untuk di balutkan di pinggang dan untuk menutupi separuh badan bagian bawah.

Setelah masuk gerbang depan tadi, kita akan dibawah ke alam hijau, terdengar di kanan-kiri suara kicauan burung, sungguh asri tempat itu. Saat memasuki daerah ini ada seorang bapak tua yang sudah mewanti-wanti untuk melepas kacamata, anting. Bukan lantaran karena tempat ini keramat sehingga membuat bapak tua memberikan petuah tersebut, tetapi melainkan karena disini banyak mahkluk yang siap menjarah harta benda kita, dan kabar buruknya lagi mahkluk itu termasuk cepat di kelasnya, ya pura uluwatu terkenal dengan monyetnya yang pandai “bersilat”.

Di dekat pintu masuk juga tidak jarang saya temui ibu/bapak tua penjajah makanan untuk monyet. Dengan tabah mereka menawarkan barang dagangannya, tersentuh hati saya, namun hanya sebatas simpati 😦 … Umumnya barang yang diambil monyet bisa kita ambil lagi — asal tau triknya — benar, dengan makanan yang dijual ibu/bapak tua tadi itu.
Tidak jarang juga ada barang yang sudah diambil monyet? namun kita mengalami kesulitan untuk mengambil barang itu?! tenang masih ada petugas liar yang tiba-tiba sok pahlawan membantu mengambilkan barang kita, tentunya dengan embel2 sejumlah uang untuk jasa liarnya tersebut.

Puas berputar-putar di sekitar pura uluwatu, kita bisa melanjutkan menonton pertunjukan tari kecak. Harga untuk per tiketnya cukup hanya dengan merogoh kocek IDR 70.000,- dan kita akan disuguhi pertunjukan tari kecak lengkap dengan cerita Arjuna dan Kera Sakti sang Hanoman nya selama kurang lebih 60 menit.
Oh iya pertunjukan Tari kecaknya dimulai pukul 17:00 waktu setempat.

Berikut kisah sejarah Tari Kecak dikutip dari kertas yang sempat dibagikan di pintu masuk.

Kecak adalah jenis tari Bali yang paling unik. Kecak tidak diiringi dengan alat musik / gamelan apapun, tetapi ia diiringi dengan paduan suara sekitar 100 orang pria. Ia berasal dari jenis tari Sakral :Sang Hyang”. Pada tari Sanghyang seseorang yang sedang kemasukan berkomunikasi dengan para dewa atau leluhur yang disucikan. Dengan menggunakan si penari sebagai media penghubung para Dewa atau Leluhur dapat menyampaikan sabdanya. Pada tahun 1930-an mulailah disiapkan cerita Epos Ramayuana ke dalam tari tersebut. Secara singkat ceritanya adalah sebagai berikut :

Karena akal jahat Dewi Kayayi (ibu tiri) Sri Rama, Putra mahkota yang syah dari kerajaan Ayodya, diasingkan dari istana ayahandanya Sang Rabu Dasarata. Dengan ditemani adik laki-lakinya serta istrinya yang setia Sri Rama pergi ke hutan Dandaka. Pada saat mereka berada dihutan, mereka diketahui oleh Prabu Dasamuka (Rahwana) seorang raja yang lalim, dan Rahwanapun terpikat oleh kecantikan Dewi Sita. Ia lalu membuat upaya untuk menculik Sita, dan ia dibantu oleh patinya Marica. Dengan kesaktiannya raksasa Marica menjelma menjadi seekor kijang emas yang cantik dan lincah. Dengan demikian maka merekapun berhasil memisahkan Sita dari Rama dan Laksamana. Rahwana lalu menggunakan kesempatan ini untuk menculih Dewi Sita dan membawanya kabur ke Alengka Pura. Dengan mengadakan tipuan ini maka Rama dan Laksamana berusaha menolong Sita dari cengkeraman Raya yang kejam itu. Atas bantuan bala tentara kera dibawah panglima Sugriwa maka mereka berhasil mengalahkan bala raksana Rahwana yang dipimpin oleh Meganada, putranya sendiri. Akhirnya Rama berhasil merebut kembali istrinya dengan selamat.

Di dalam ruangan luas pertunjukkan itu terdapat bangku yang berbentuk 3/4 melingkar menghadap ke tengah, sembari menunggu pertunjukkan kita bisa melihat matahari yang mulai turun menyentuh garis katulistiwa, apabila kita beruntung kita bisa mengabadikan moment tari kecak dengan latar belakang sunset πŸ™‚

NB : Buat yang belum tau dimana uluwatu silahkan lihat disini. Berjarak kurang lebih 20km ke arah selatan kuta atau bandara ngurah rai.

Dan berikut photo hanoman obong yang berhasil saya abadikan.

Hanoman Obong

Hanoman Obong

Bali Culture

Blank Stares

Hanoman Not in a Good Mood

Another Shoots at Pura Uluwatu

a Life

litte Girl

When You Fallin Love

Japanese Girl

Uluwatu Temple

Location

Advertisements

Written by Febry Hadinata

26 February 2010 at 02:00

13 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Fotonya bagus banget. Penasaran foto yang pertama itu, pake flash apa cuma pake available light doang sih?

    Fajar Nurdiansyah

    1 March 2010 at 20:51

    • Semuanya available light Jar …
      Thank you πŸ™‚

      Febry Hadinata

      1 March 2010 at 20:56

      • Ho.. pake fast 50 ya πŸ™‚ (barusan liat exifnya di flickr)

        Yang “When you fall in love” itu juga bagus (bener itu ga si judulnya? :P)

        Fajar Nurdiansyah

        1 March 2010 at 21:20

      • hehe iya pake fast 50 yang hanoman kobongnya …
        iya di scroll over ntar kuar judulnya koq hehe πŸ™‚ thanks a lot mas :cheers:

        Febry Hadinata

        1 March 2010 at 21:22

  2. wah.. besok2 kl duduk jangan deket2 fotografer lain… ga seru, hasil seolah2 ga orisinil πŸ˜›
    mantap gan….

    myudistira

    2 March 2010 at 11:25

    • terlalu deket kita mas waktu itu duduknya, hasil photo ya itu2 aja *sudutnya sama* … hehe
      thanks mas Yudis..

      Febry Hadinata

      2 March 2010 at 12:06

  3. cewe jepangnya cakep πŸ˜€

    Hendrawan

    2 March 2010 at 13:06

    • setuju, tapi hanya boleh dilihat πŸ˜€

      Febry Hadinata

      2 March 2010 at 13:18

    • emang kalo di uluwatu selaluuu aja nemu cewe jepang yg cakep-cakep.. kenapa ya πŸ˜€

      Eru

      2 March 2010 at 16:07

  4. dan entah kenapa selalu suka Nikon Tone yang warm πŸ˜€

    foto terakhir bagus gan

    Eru

    2 March 2010 at 16:08

    • dan entah kenapa juga saya selalu suka Soft Tonenya Canon , esp. for HI #.#
      btw thanks bro Eruu.. :cheers:

      Febry Hadinata

      2 March 2010 at 16:27

      • Dan entah kenapa saya iri dengan body Sony dengan sensor stabilizationnya -_-

        Rumput tetangga emang lebih hijau πŸ˜€

        Fajar Nurdiansyah

        2 March 2010 at 16:31


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: